Sumpah Pemuda: Dari Pelabuhan ke Peradaban

OPINI1112 Dilihat

Oleh: Andi Makmur Burhanuddin
(Ketua Fraksi PKB DPRD Makassar)

SULSEL.NEWS – Makassar selalu punya caranya sendiri dalam membaca zaman. Sejak ratusan tahun lalu, pelabuhan ini bukan sekadar tempat singgah kapal dan komoditas, tapi juga tempat bertemunya manusia dan gagasan.

Dari pelabuhan inilah para saudagar, ulama, pelaut, dan pemikir menukar pikiran, bertukar pandangan, dan menanam nilai-nilai yang kelak menjadi peradaban.

Saya sering berpikir, mungkin semangat itulah yang paling dekat dengan makna Sumpah Pemuda: keberanian untuk membuka diri, tapi tetap berakar pada kehormatan. Karena bagi orang Makassar, hidup tanpa “siri’ na pacce” sama artinya dengan hidup tanpa kemanusiaan. saya memaknaninya, jika Tak punya kehormatan dan empati, maka hilanglah kemanusiaan yang sejati.

Falsafah itu adalah jiwa kota ini. Siri’: menjaga kita agar tidak mempermalukan diri dengan kelakuan yang rendah. Pacce: mengingatkan bahwa kita tidak bisa hidup tanpa merasakan penderitaan sesama.

Keduanya adalah jangkar moral, bukan hanya bagi orang Makassar, tapi bagi siapa pun yang ingin menjadi manusia yang utuh.

Dan bila Sumpah Pemuda dulu lahir sebagai ikrar untuk menyatukan bangsa, maka hari ini ia harus ditafsir ulang sebagai ikrar untuk menjaga martabat dan empati di tengah arus zaman yang dingin dan cepat.

Kita boleh hidup di era digital, tapi tanpa Siri’ dan Pacce, teknologi hanya akan melahirkan generasi yang pandai bicara tapi kehilangan rasa.

Pelabuhan Makassar hari ini bukan lagi tempat kapal berlabuh, tapi tempat gagasan saling bertemu, dari kampus, kantor, hingga ruang-ruang digital. Di sanalah pemuda diuji apakah ia sekadar mengulang sumpah yang sama, atau benar-benar melanjutkannya dalam tindakan.

“Sumpah Pemuda tidak berhenti pada satu bahasa dan satu tanah air,” tulis saya suatu kali, “tapi tentang satu kehendak untuk menjaga kemanusiaan dalam kebersamaan.”

Orang Makassar punya pepatah, “Tannang ri galla-galla, ajjaga siri’mu,”
Teguh dalam pendirian, jaga harga dirimu.

Kalimat itu bukan hanya nasihat moral, tapi juga etika politik dan sosial. Ia mengingatkan kita untuk tetap teguh di tengah godaan kepentingan, tetap jujur di tengah tipu daya, dan tetap punya hati di tengah persaingan yang kadang kejam.

Sumpah Pemuda, dalam konteks kota ini, bukan hanya peristiwa sejarah. Ia adalah napas yang masih hidup di jalan-jalan sempit Ujung Pandang, di kampus-kampus, di meja warkop, di pelabuhan Paotere, dan di pikiran anak muda yang bermimpi tentang Makassar yang lebih adil dan manusiawi.

Pelabuhan mengajarkan satu hal penting, bahwa peradaban tidak dibangun oleh tembok yang menutup, tapi oleh jembatan yang menghubungkan.

Dan pemuda sejati bukan mereka yang sibuk mengibarkan bendera di upacara, tapi mereka yang setiap hari menjaga agar pelabuhan itu tetap terbuka bagi gagasan, dialog, dan kemanusiaan.

Saya percaya, selama Siri’ na Pacce masih hidup di hati orang Makassar, Sumpah Pemuda tidak akan pernah menjadi kenangan. Ia akan terus berlayar, dari pelabuhan ini, menuju peradaban yang lebih luhur.

“Resopa temmangingngi namalomo naletei pammase dewata.”
Hanya dengan kerja keras dan ketulusan hati, kita akan mendapat rahmat Tuhan.

Itulah sumpah sejati yang kita warisi dan yang mesti kita hidupkan kembali hari ini.(*/rls)