SULSEL.NEWS – Ketua Fraksi PKB DPRD Kota Makassar, Andi Makmur Burhanuddin (Noval), mengajak masyarakat melihat perkembangan teknologi perang modern seperti yang terjadi dalam konflik Rusia–Ukraina sebagai bahan renungan bagi kehidupan kita sehari-hari.
Menurut Noval, apa yang tampak di medan perang dunia sebenarnya juga terjadi dalam kehidupan sosial: persaingan tidak lagi dimenangkan oleh yang paling kuat, tapi oleh yang paling cerdas dan adaptif.
“Kalau dalam perang, kecerdasan buatan atau artificial intelligence menjadi senjata utama, maka dalam kehidupan sosial, kecerdasan berpikir dan moral manusialah yang seharusnya menjadi penuntun,” ujar Noval sapaan akrabnya.
Ia menilai, perkembangan teknologi seperti drone otonom dan sistem AI yang mampu mengambil keputusan sendiri seharusnya menjadi pengingat bahwa manusia tidak boleh kehilangan kendali atas ciptaannya sendiri.
Dalam konteks sosial, kata Noval, hal itu bisa diterjemahkan sebagai tantangan agar masyarakat tidak dikendalikan oleh arus informasi, algoritma media sosial, atau emosi sesaat.
“Kita memang hidup di era digital. Tapi jangan sampai kita kehilangan kemampuan untuk berpikir jernih, menimbang baik dan buruk, dan memutuskan dengan hati nurani,” tambahnya.
Dari Medan Perang ke Kehidupan Sehari-hari
Tulisan Sekjen DPP PKB, M. Hasanuddin Wahid, tentang perang Rusia–Ukraina membuka mata banyak pihak bahwa teknologi kini bukan hanya alat bantu, melainkan juga aktor.
Drone, sensor, dan sistem algoritma bekerja tanpa menunggu perintah manusia, sebuah tanda bahwa dunia sedang bergerak ke arah di mana mesin mulai “mengatur perang”.
Noval memandang fenomena ini sebagai metafora sosial yang relevan bagi masyarakat kita. Menurutnya, di tengah derasnya informasi, sering kali manusia bertindak seperti mesin: bereaksi cepat tanpa berpikir panjang, mudah terpicu oleh emosi, dan kehilangan kendali atas arah pikirannya sendiri.
“Kalau di perang modern, targetnya adalah pikiran musuh, maka di media sosial, targetnya adalah persepsi masyarakat. Kita harus sadar, kita ini sedang berada di ‘medan perang kognitif’ juga,” ujarnya.
Noval menekankan bahwa kemajuan teknologi tidak boleh melebihi kematangan moral masyarakat. Kecerdasan digital yang luar biasa tidak ada artinya tanpa kecerdasan hati.
Ia mengingatkan agar masyarakat, terutama generasi muda, belajar menggunakan teknologi secara bijak dan bertanggung jawab.
“Kita boleh punya sistem yang pintar, tapi jangan sampai kehilangan nilai kemanusiaan. Di DPRD pun kami sering berdiskusi bahwa tantangan ke depan bukan sekadar pembangunan fisik, tapi pembangunan etika dan literasi digital masyarakat,” katanya.
Menutup refleksinya, Noval menyebut bahwa perang Rusia–Ukraina hanyalah cermin ekstrem dari kenyataan bahwa dunia kini bergerak cepat, sering kali tanpa arah yang pasti.
Namun di tengah percepatan itu, masyarakat Makassar dan bangsa Indonesia masih punya peluang besar untuk meneguhkan jati diri: menguasai teknologi tanpa kehilangan akal sehat.
“Kalau perang di luar sana soal senjata dan algoritma, maka perang di sini adalah melawan kebodohan, kebencian, dan ketidakpedulian,” tutupnya. (*/rls)







