Regional 4 PT Pupuk Indonesia Jamin Distribusi Pupuk Bersubsidi di Sulsel Aman

EKOBIS59 Dilihat

SULSEL.NEWS – Regional 4 PT Pupuk Indonesia (Persero) menggelar media gathering bertema edukasi penyaluran pupuk bersubsidi di Virtu Cafe & Resto CPI, Kota Makassar, Rabu (22/4/2026).

Kegiatan ini menjadi ajang klarifikasi sekaligus sosialisasi terkait ketersediaan stok dan mekanisme distribusi pupuk kepada petani.

Hadir dalam kegiatan tersebut jajaran manajemen Regional 4, termasuk Wisnu Ramadhani selaku perwakilan manajemen wilayah serta Senior Manager Regional 4A Sukodim.

Wisnu Ramadhani memastikan stok pupuk bersubsidi untuk wilayah Sulawesi Selatan dalam kondisi aman. Ia menyebut persediaan yang ada saat ini mampu mencukupi kebutuhan hingga lima pekan ke depan.

“Untuk Regional 4, khususnya Sulsel, stok pupuk mampu bertahan sampai lima minggu ke depan. Sambil berjalan, kami juga rutin melakukan pengiriman dari pabrik di Gresik maupun Kalimantan Timur,” ujar Wisnu.

Wisnu menegaskan, untuk kawasan Indonesia Timur yang berada di bawah Regional 4, kondisi stok relatif terkendali. Pihaknya juga membantah isu kelangkaan pupuk di tingkat petani.

“Insya Allah tidak ada kelangkaan. Kalau ada informasi kelangkaan, silakan konfirmasi ke kami, pasti akan kami telusuri. Dengan stok sebanyak itu, rasanya agak mustahil terjadi kelangkaan,” tegasnya.

Sementara itu, Senior Manager Regional 4A PT Pupuk Indonesia (Persero), Sukodim, menambahkan bahwa pengawasan terhadap penyalur pupuk bersubsidi atau Pupuk Bersubsidi Tersalurkan (PBTS) terus diperketat.

Ia mengungkapkan, sepanjang tahun lalu terdapat 232 laporan dugaan penjualan pupuk di atas Harga Eceran Tertinggi (HET). Namun setelah diverifikasi bersama kelompok tani dan penyuluh pertanian lapangan, hanya tiga penyalur yang terbukti melanggar.

“Dari ratusan laporan, yang terbukti menjual di atas HET hanya tiga PBTS dan langsung kami hentikan. Semua kami verifikasi bersama kelompok tani dan penyuluh,” jelas Sukodim.

Ia menerangkan, harga sesuai HET berlaku jika petani menebus pupuk langsung di kios resmi dengan pembayaran tunai dan dalam kemasan asli. Perbedaan harga kerap muncul saat penebusan dilakukan secara kolektif dan memerlukan biaya tambahan pengantaran.

“Kalau ambil langsung di kios resmi, harus sesuai HET dan itu tercatat di aplikasi, termasuk sisa kuota dan harga yang dibayar. Tambahan biaya biasanya muncul kalau ada ongkos antar dan buruh,” terangnya.

Selain soal distribusi, Pupuk Indonesia juga mendorong peningkatan penggunaan pupuk organik bersubsidi. Tahun ini, alokasi pupuk organik untuk Sulsel meningkat menjadi 98.159 ton dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 62.266 ton.

Menurut Sukodim, penggunaan pupuk organik perlu dikombinasikan dengan pupuk anorganik untuk menjaga kesuburan tanah sekaligus meningkatkan produktivitas pertanian.

“Kami terus melakukan edukasi agar petani mau menggunakan pupuk organik. Dengan kombinasi yang tepat, produktivitas meningkat dan kesuburan tanah tetap terjaga demi pertanian berkelanjutan,” pungkasnya.(*)