oleh

Perkuat Wawasan Kebangsaan, PMKRI Makassar Gelar Doa Perdamaian dan Dialog Kepemudaan

SULSEL.NEWS – Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Makassar menggelar Doa Perdamaian dan Dialog Kepemudaan “Merawat Nilai-Nilai Kebangsaan di Era Digital”, di Warkop Warkop Kampus Kedua Jl. Perintis Kemerdekaan, pada Sabtu (30/11/2019)

Kegiatan ini dihadiri sekitar 70 Mahasiswa dari berbagai kampus, Kader PMKRI, Komisariat UNHAS, Komisariat Unifa, serta Mahasiswa dari Ikatan Mahasiswa Papua UNHAS dan Ikatan Mahasiswa Fakfak Papua Barat.

Hadir Narasumber Basthian Littu Ketua BPC GMKI Cabang Makassar, Perwakilan PMII Cabang Makassar Irfan, dan Perwakilan PMKRI Cabang Makassar Jur Sintus F. Jemali

Dalam sambutannya, Ketua Presdium PMKRI Cabang Makassar Pius Yolan Ketua menyampaikan, tantangan kebangsaan hari ini khususnya di era digital sangat kompleks. Mulai dari persatuan dan kesatuan sesama anak bangsa yang masih diperbincangkan tak kunjung usai, penyebaran hoaks dengan pemanfaatan media sosial.

Disisi lain lain lanjut Pius, masih ada persoalan lainnya seperti sebagian kelompok kecil yang berusaha merong-rong Pancasila, adu domba sesama anak bangsa yang mengancam persatuan, isu suku, agama, ras dan golongan menyebabkan ancaman kehidupan yang pluralisme.

“Diera digital sekarang, ancaman itu semakin nampak dengan media sosial sebagai lahan untuk berekspresi diri tanpa ada manfaat positif,” terang Pius Yolan

Terakhir, Yolan mengajak generasi millenial untuk membumikan nilai-nilai Pancasila sebagai falsasaf hidup berbangsa dan bernegara. Sebab pancasila adalah sebuah karya agung bangsa.

“Jadikan Pancasila sebagai karakter kebangsaan yang harus melekat setiap diri pemuda. Mahasiswa sebagai biang perubahan, pelopor gerakan demi kehidupan yang harmonis dengan tindakan yang nyata ditengah masyarakat,” ajaknya.

Sementara, Ketua BPC GMKI Cabang Makassar Basthian Littu dalam pemaparan materinya menilai, Pancasila cukup lemah dalam implementasinya. Olehkarenanya, pemuda tidak boleh sebagai penonton namun hadir sebagai pemberi solusi yang nyata dengan semangat gotong royong. “Jangan pernah berhenti mencintai NKRI,” ungkapnya.

Narasumber lainnya, Perwakilan PMII Cabang Makassar Irfan menyampaikan, bahwa di era digital ini dengan kemajuan teknologi yang sangat cepat, dampaknya cukup besar khususnya berita-berita hoaks.

“Kita boleh beda suku, ras dan golongan, namun Bhineka Tunggal Ika tetap diatas segalanya demi kehidupan bersama khususnya toleransi dan tetap menjadi pribadi yang nasionalisme,” jelasnya.

Sementara, narasumber Jursintus F. Jemali perwakilan PMKRI Cabang Makassar mengungkapkan bahwa pemahaman nilai-nilai kebangsaan saat ini khususnya generasi millenial kian memudar. Sikap perbedaan yang membedakan posisi pada warna kulit, ras, golongan akan mengancam kokohnya keberagaman.

“Diera digital sekarang, ancaman itu kian dirasakan. Pemuda sebagi tulang punggung bangsa Indonesia. Oleh karenanya, mari menenun kembali benang kebhinekaan yang terlanjur kusut, dalam bingkai toleransi. Saatnya menjadi pribadi yang unggul untuk merawat kembali tembok persaudaraan yang terlanjur retak,” tandasnya. (*/rls)

Editor: admin

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed